REKAM DATA e-ktp DI BALAI PERTEMUAN DESA KEDUNGJARAN / GEDUNG BUMDes PADA SENIN 20 NOVEMBER 2017

Launching Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Dalam upaya melindungi warga Desa Kedungjaran dari resiko kesehatan, kecelakaan kerja dan Kematian. Desa Kedungjaran menggalakkan kesadaran warga untuk ikut dalam program Jaminan Sosial BPJS Ketenagakerjaan.

Pelantikan Sekretaris Desa

Laelatun Nadifa dilantik dan diambil sumpahnya oleh Kepala Desa Kedungjaran Saridjo untuk menjalankan tugas menjadi Sekretaris Desa di Kedungjaran

Dana Desa Untuk Pemberdayaan Masyarakat

Desa Kedungjaran adalah salah satu desa yang paling menonjol dalam pemanfaatan Dana Desa guna memberdayakan Masyarakat dalam rangka mengurangi angka kemiskinan masyarakat desa.

Penyerahan Sertifikat Prona

Penyerahan Sertifikat Prona untuk warga Kabupaten Pekalongan dilakukan serentak di Pendopo Rumah Dinas Bupati Pekalongan

Perpustakaan Terbaik IT

Kepala Desa Kedungjaran menyampaikan Masukan dihadapan penggiat Literasi Indonesia yang tergabung di Perpuseru untuk mengkuti tahapan Pengusulan di Musyawarah Desa guna memasukkan Perpustakaan yang bisa didanai dari Dana Desa.

Kerja Bakti Drainase Lingkungan

Dalam upaya menghadapi musim penghujan 2018/2019, guna meminimalisir genangan air di linkungan warga dilakukan kerja bakti secara serentak di desa kedungjaran.

Launching Desa Sadar Jaminan Sosial Ketenagakerjaan

Dalam upaya melindungi warga Desa Kedungjaran dari resiko kesehatan, kecelakaan kerja dan Kematian. Desa Kedungjaran menggalakkan kesadaran warga untuk ikut dalam program Jaminan Sosial BPJS Ketenagakerjaan.

Rabu, 27 Agustus 2014

Upacara Penurunan Bendera, Pengkhianatan Kemerdekaan Bangsa.

HUT RI ke-69 di Kecamatan Sragi
Hingar bingar semarak peringatan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia yang pada tahun 2014 ini menginjak ke tahun 69 mulai surut menghilang. Walau di sana-sini masih berjejer bendera merah putih di pinggiran jalan, namun gegap gempita acara sudah mulai berkurang. Terlebih sebentar lagi memasuki bulan september.

Namun ada pertanyaan yang mengganjal setengah bulan ini, tak lain ketika pada tanggal 17 Agustus 2014 sebagai seorang Kepala desa penulis harus mengikuti Upacara Penaikan Bendera sekaligus peringatan Detik-detik proklamasi. Ada rasa kebanggaan akan Bangsa ini yang luar biasa menyesak dada, mungkin lebih tepat keharuan akan betapa kemerdekaan ini adalah sebuah anugerah yang teramat tak ternilai harganya dari sebuah perjuangan para pendahulu bangsa.

Akan tetapi rasa Patriotisme ini luruh hingga terasa hati patah berkeping-keping. Ada rasa ingin berontak untuk berteriak kencang, " Hentikan !!!". Namun tak ada daya karena didepan adalah jajaran muspika, bahkan Kepolisian dan TNI-pun berdiri gagah mengawal. Sore itu Sang Saka Merah Putih diturunkan dengan hormat. 

Ya.... ia diturunkan dari angkasa langit biru Indonesia, tempat dimana seharusnya dan sepatutnya ia berada. Berkibar tak lapuk karena hujan, tak lekang karena panas matahari. Sekali berkibar ia akan terus berkibar, pantang untuk diturunkan.

Ada rasa yang hilang, seribu tanya silih berganti mendengung di hati. Akankah para leluhur kita tenang di sana menyaksikan ini semua. Betapa perjuangan mereka untuk mengibarkan sang saka merah putih di cakrawala nusantara begitu mudah diciderai dengan seremonial penurunan bendera.

Secara sederhana, penurunan bendera adalah kalahnya sebuah Bangsa dan Negara yang diwakili oleh lambang bendera tersebut. Maka ketika masa perjuangan, betapa gagah berani dan gigih para pejuang untuk menurunkan bendera lawan lalu menaikkan bendera merah putih sebagai perlambang kedaulatan negara. Tak sedikit nyawa melayang untuk sebuah peristiwa penurunan bendera musuh dan menaikkan bendera merah putih.

Lalu apakah memang sudah sedemikian rendahkah rasa kebangsaan terhadap negeri ini. Ataukah ini perlambang bahwa Bangsa ini memang kadang berdaulat dan satu saat ia dimasgulkan dan tak berkuasa. 

Miris, hingga tersadar, pantaslah Negara yang begitu kaya akan sumber daya alam ini tak pernah beranjak dari keterpurukan. Karena ia tak pernah berkuasa penuh selama ini. Kala siang ia berdaulat seperti layaknya sebuah bendera berkibar di angkasa. Namun menjelang petang ia diturunkan, hingga para musuh bebas bergentayangan, mengerogoti, memerah dan menghisap.

Sebuah perenungan, perlukah sebuah Upacara penurunan Bendera dilakukan. Karena tidakkah seharusnya Sebuah Bendera akan berharga ketika ia berkibar di angkasa, tetap berkibar walau panas hujan bahkan badai sekalipun. Seperti halnya Negara ini, ia harus berdaulat kapanpun siang atau malam.


Rabu, 20 Agustus 2014

Asal-usul Desa Kedungjaran

Pada Abad 17 atau tepatnya Tahun 1628 Kerajaan Mataram yang dipimpin Sultan Agung berencana akan menyerang Belanda di Batavia. Untuk itu dikumpulkanlah para Prajurit tangguh diantaranya Adipati Kendal yang berasal dari Pekalongan Kesesi anak dari Ki Cempaluk yaitu Tumenggung Baurekso.

Ditugasilah Tumenggung Baurekso untuk menyiapkan Prajurit Berkuda karena beliau mahir berolah senjata di atas kuda. Dan memang pada waktu itu ada divisi-divisi pasukan berkuda, Pasukan Gajah, Pasukan Panah, Pedang dan Tombak.

Dengan disertai prajurit-prajurit pilihan yang berasal dari batang, pekalongan dan kendal berangkatlah pasukan berkuda ‘KOLODUTO’ Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Tumenggung Baurekso.

Namun sayang, pada serangan yang sangat sengit di Batavia, pada tanggal 21 September 1628 Tumenggung Baurekso beserta anaknya Gugur. Hal ini mengakibatkan anak buahnya mundur kembali ke mataram.

Pada saat mundur guna menghindari pengejaran, pasukan yang tinggal beberapa orang melalui hutan-hutan dan tempat yang belum ada jalannya. Hingga sampailah di sebuah pinggiran Sungai yang sekarang bernama sungai sragi.

Saat akan menyebrang sang Kuda yang dinaiki seorang prajurit meringkik menolak, namun karena dipaksa maka berjalanlah kuda tersebut. Namun belum sampai di tengah sang Kuda tenggelam.
Dengan susah payah para prajurit berusaha menyelamatkan sang kuda, namun ia tenggelam. Maka pada saat itu si pemimpin Prajurit berkata, “ Besuk nek jamane wis rame panggonan iki supoyo diarani kedungjaran”. Yang atinya areal dalam di suatu sungai tempat tenggelamnya sang kuda.

Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne Kabupaten Pekalongan



Hari jadi Kabubaten Pekalongan yang ke 972 hampir berbarengan dengan HUT Kemerdekaan RI ke-69. Maka bisa dibayangkan betapa sibuk, ramai dan gegap gempita berbagai acara yang diadakan Pemda Kabupaten Pekalongan unetuk memperingati dua hari bersejarah tersebut.

Berbagai acara seremonial, kegiatan sosial, lomba-lomba, hiburan rakyat hingga acara bersifat penilaian kerja kinerja antar SKPD dan UPT diadakan. Juga EXPO Kajen sebagai sarana ajang promosi berbagai kegiatan UKM di Kabupaten Pekalongan-pun dilakukan juga. Dan dalam waktu dekat ada Kajen Gemuruh yang merupakan ajang unjuk kemampuan Drumband-Marchingband di kabupaten Pekalongan serta Pagelaran Wayang Santri oleh Ki Dalang Entus Susmono Tegal.

Berlangsung di pendopo Rumah DinasBupati, pada Rabu 20 Agustus 2014 juga diadakan Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne Kabupaten Pekalongan antar Kecamatan dan Instansi. Diikuti 20 Tim lomba berlangsung seru dan Meriah. 

Adapun Pemenang Lomba Paduan Suara Mars dan Hymne Pekalongan adalah Juara 1 Tim dari Karanganyar, Juara 2 Tim RUSD Pekalongan dan Juara 3 Tim dari Kesesi. Kecamatan Sragi untuk tahun ini belum bisa membawa trophi kemenangan. Dalam kesempatan tersebut Bapak Camat Edi Sutanto beserta Ibu mengucapkan terimakasih dan bangga walau timnya belum bisa merebut kemenangan.

Selasa, 19 Agustus 2014

Telor asin "YANNIK" Kedungjaran

Selama ini Telor Asin identik dengan kota Brebes. Memang banyak kita jumpai bila lewat jalan pantura berjejer kios dari yang berbentuk Swalayan Modern, Toko Oleh-oleh hingga warung kecil pinggir jalan yang menjajakan Telor asin disampin bawang Merah ikat sebagai hasil utama pertanian daerah tersebut. 

Di desa Kedungjaran ternyata ada juga produsen telor asin. Walau masih berskala rumahan namun merupakan fenomena yang menarik karena memang di desa tak ada peternak bebek sebagai sumber utama telornya. Karena memang, telor asin harusnya dari telor bebek walau sekarang banyak juga dijumpai telor asin dari ayam yang disepuh warna hingga menyerupai telor bebek atau itik. Namun rasa tentu tak bisa bohong, lebih padat, gurih dan kenyal telur bebek pastinya.

Dengan satu masa produksi yang memerlukan pemeraman atau pengasinan hingga 600 butir telur maka kebutuhan yang sangat tinggi akan bahan mentah telurnya. Selama ini bila masa panen banyak suplier telur berdatangan, namun masa musim hujan terlebih banjir seperti sekarang ini produksi sedikit terganggu karena langkanya telur itik hingga kadang harus mencari ke daerah kendal hingga semarang.

Dengan banyaknya rumah makan - rumah makan yang bermunculan permintaan telur asin kian meningkat. Karena Warung atau Rumah Makan sering menyediakan telur ini karena awet bisa bertahan 4 - 7 hari dengan penyimpanan di tempat terbuka dan hingga 1 bulan di lemari es. 

Bila ada perlu seperti hajatan atau sekedar ingin mencicipi gurihnya Telur Asin 'YANNIK' silahkan datang ke Dusun IV tempat Bapak Widyamukti Kepala dusun IV atau menghubungi nomor 081542181079. Bila untuk pesanan banyak pasti lebih murah, kata Mbak Yani yang juga pegawai di kantor Kecamatn sragi ini.

Kamis, 14 Agustus 2014

RPJMDes TH 2014 - 2019

Pemotongan Dana PNPM 11 %

Sejak bulan Juni 2014 lalu muncul wacana yang membuat suasana kerja para penggiat PNPM Mandiri Pedesaan di Desa Kedungjaran agak lesu. Bagaimana tidak, program yang sudah disetujui di biayai sudah dijalankan, bahkan bangunan fisik sudah selesai hingga 99% namun pencairan dana masih 69 %. Yang membuat gundah adalah kabar bahwa ada pemotongan jumlah anggaran yang dikucurkan.

Andai saja pembangunan baru 50-an % bisa saja RAB dirubah, namun rata-rata pelaksanaan sudah 99%. Ini terjadi karena untuk material Tim Pelaksana Kegiatan tingkat desa bekerjasama dengan Suplier. Nah yang jadi masalah bila memang terjadi pemotongan dana untuk suplier harus digantikan dari sumber lain karena sisa dana di Unit Pelakasana Kecamatan ( UPK ) sudah tak mencukupi.

Sangat disayangkan, mengapa harus PNPM ?. Padahal PNPM-lah Bantuan Dana Pembangunan yang secara administrasi sangat ketat dan tak ada potongan apapun. Pendampingan juga luar biasa ketat, dari maslah pendanaan hingga masalah tekhnik sangat diawasi dengan penuh. Hingga bisa dikatakan penyimpangan di PNPM sangat kecil terjadi.

Maka harapan dari penggiat PNPM, semoga pemerintah bijak mengambil keputusan agar Program yang nyata dengan kesertaan masyarakat ini bisa berlangsung terus dan tentunya tak ada pemotongan anggaran karena Pelaksanaan pembangunan sudah dilakukan.

Minggu, 10 Agustus 2014

Wereng Oh wereng


Belum selesai Hama Tikus menyerang persawahan di Desa Kedungjaran, kini giliran hama wereng ikut menyerang. Nampaknya derita petani desa kedungjaran dan sekitarnya tak kunjung henti. Berpetak-petak sawah yang belum sembuh dari serangan tikus kini menguning daunnya karena wereng menyerang serentak.

Lebih parahnya sang wereng menyerang menjelang hari raya Idul Fitri ketika para petani sedang sibuk-sibuknya menyambut sanak keluarga dari rantau dan mempersiapkan hari raya kemenangan bagi umat islam. Hingga perhatian terhadap sawah mereka agak terabaikan, padahal hama wereng menyerang cepat dan serentak.

Maka ketika sang petani mulai menengok sawahnya hama wereng sudah merajalela dan sangat terlambat untuk ditangani. Walau memang serangan hama tersebut tidak saja menyerang desa Kedungjaran namun menyerang pula di sebagian besar areal persawahan di kabupaten Pekalongan.

Dinas Pertanian Kabupaten Pekalonganpun bertindak cepat, dengan sebelumnya mengedarkan surat edaran akan serangan hama wereng dan terakhir pada Minggu, 10 Agustus 2014 melakukan penyemprotan masal yang bertujuan memperkecil dampak dari hama wereng tersebut.

Harapan kita semoga panen ini masih ada hasil walau sedikit.